This is one of my Biggest Dreams…” Build Amanda Love World” in Nangroe Aceh Darussalam. Lantas bagaimana ceritanya saya bisa memiliki impian ini?
Desember 2008, tepatnya 4 tahun setelah Tsunami di Aceh, saya terbang kesana bersama dengan dua orang adik angkat saya. Saya sendiri benar benar tidak menyangka jika akhirnya saya akan menginjakkan kaki saya di tanah para Syuhada ini.
Saya tidak menyangka jika saya akan menginjakkan kaki di kota Aceh yang selama ini hanya saya tahu dari buku-buku, koran atau Majalah Sabili dan Tarbawi.
Waktu itu saya baru saja lulus SMA dan sedang membangun usaha. Membelikan tiket pesawat buat 3 orang merupakan hal yang berat. Namun karena saya sudah berjanji kepada adik saya, sekaligus sahabat dekat saya, akhirnya Allah membelikan jalannya juga.
Begitu menginjankkan kaki di Aceh, saya sangat kaget. Karena penerapan syariat Islam tidak terlalu ketat. Banyak ibu ibu yang tidak mengenakan jilbab. Tentu saja ada cuma ada beberapa. Dan waktu itu saya berada di kompleks.
Umi dan Abi, biasa saya memanggil mereka, waktu itu mengontrak sebuah rumah di Neusu Jaya banda aceh. Sangat dekat dengan pasar. Dan karena rumah tersebut tingkat, saya menempati bagian atas. Saya sangat Suka tinggal di rumah tersebut. Cuma sayang, karena pemiliknya menaikkan harga kontrak, terpaksa Umi dan Abi harus mencari kontrakan yang baru. masih di dekat situ juga di neusu jaya, cuma agak masuk. Dan halaman rumahnya sangat luas. Ada tebu, dan pohon kelapa. Saya menikmatinya waktu membersihkan rumah baru tersebut. Lebih bagus sepertinya. Saya belum pernah tidur kesana. Waktu itu, saya hanya membantu membersihkan rumput dan membersihkan rumah yang mau di Tinggali bersama Huda dan Ozi, Sedangkan Ihsan ngambek. Dia gak mau bantu bantu membersihkan rumah baru. Dia beralasan dengan menemanin main Syifa dan Azizah, yang masih kecil, lucu, manis dan cantik sekali mungkin kalau dah besar nanti. Syifa yang masih TK dan sudah bicara sangat pintar dan baik hati, walau kadang agak nakal. Paling sering dia ngambek jika saya harus menggendong Azizah yang lebih kecil dari dia. Dan Syifa selalu cemburu, maunya ikut saya terus.
Karena mempunyai kakak di Medan, saya mampir kesana. Dan harus bolak balik dari Aceh ke Medan atau dari Medan ke Aceh. Perjalanan yang sangat menyenangkan dan tidak terasa. Paling sering naik bis PMTOH atau PELANGI, tapi aku merasa nyaman ketika naik PMTOH. Yang jelas saya lebih suka naik PMTOH dan itulah pertama kali saya menonton film Death Note yang berjudul L CHANGE THE WORLD, waktu itu saya tidak terlalu paham karena film tersebut menggunakan bahasa Jepang. Namun 3 tahun setelahnya saya menemukan film yang sama seperti yang saya tonton di bis waktu perjalalan Banda Aceh ke Medan. Saya mampu memahami maksud dari film tersebut setelah melihat seri pertama dan ketiga.
Di Aceh saya mengunjungi banyak tempat, mulai dari pantai Ulele, mendaki Gunung yang katanya dulu tempat tentara GAM berlatih, Pergi ke Benteng yang terbuat dari batu dan saya tidak tahu namanya. Pergi ke Air terjun atau tempat apa gitu, saya kurang tahu namanya. Yang jelas lokasinya dekat dengan markas TNI. Sayang saja, semua foto saya upload ke friendster dan sudah tidak bisa di akses lagi. saya tidak bisa berbagi foto tempat tempat indah tersebut dengan anda. Namun saya akan mencarikannya di google sehingga anda bisa melihatnya.
Pergi ke PLTD Apung, di mana kapal pembangkit listrik tenaga ombak tersebut tersapu ke daratan dan di bawahnya tertimbun mayat mayat yang tidak bisa di evakuasi. Dan di sekitar Kapal tersebut telah di dirikan rumah rumah.

Pergi berziarah ke tempat kuburan Massal yang di jadikan taman. Sangat indah dan rapi. Banyak orang orang yang berkunjung ke sini.

Melihat rumah yang seseorang yang merekam peristiwa terjadinya Tsunami dan video tersebut di jual kepada Metro TV.
Berkunjung ke Hidayatullah sebuah ponok pesantren cabang yang didirikan di aceh untuk merawat anak anak yatim, terlantar korban tsunami. Mereka di rawat dan dididik di sana. Umi dan Abi saat ini tinggal di sana, umi mengabdi dan mengajar di sana. Sedangkan Abi hanya menemani umi. Beliau dulu kerja di KIMIA FARMA, dan saat ini membuka apotek sendiri. Umi sendiri memiliki ketrampilan menjahit dan membuka usaha konveksi. Setelah saya pulang dari aceh beliau juga membuka usaha Rumah makan Bakso. Mengontrak seuah ruko baru yang saya belum pernah melihat sebelumnya. saya diminta ke aceh untuk membantu mengurus Warung makan tersebut, namun saya menolaknya. Akhirnya sekarang Umi dan Abi tinggal di pesantren, mengabdi di sana. Nur huda, dan adik adik serta sepupunya dan eyang, tinggal di rumah baru di Peniti
Berkunjung ke Masjid Baiturrahman, sangat sering main kesini. Dan terakhir kali kesini, Nurhuda dan Nur Ihsan berantem..hehehe.

Yang paling menyenangkan dan menegangkan adalah ketika pergi ke Sabang, naik motor sekeluarga. Saya memboncengkan Nur Huda dan kadang Syifa minta ikut sama saya. Wah naik kapal menyeberang ke Sabang dan pada akhirnya naik motor dari pelabuhan ke dekat zona 0 KM Indonesia. Kami menyewa rumah kecil sebelum ke 0 KM Indonesia. Rumah tersebut memang di sewakan khusus untuk orang orang yang berwisata ke sana. Deket sekali dengan Pantai dan aku tidak tahu apa nama pantainya. Dan jika di kasih tahu langsung lupa karena namanya sangat susah. Sangat nyaman dan menyenangkan. Kalau gak salah ingat, sekitar 2 hari kami menginap di sini. Permasalahannya kami ketinggalan kapal yang ke Banda Aceh, hehehe…pulang pulang ke neusu capek banget.hehehe…
Lantas apakah saya bahagia berada di sana, bermain di sana? Bisa ya dan bisa juga tidak. Saya sempat menangis beberapa kali di sana, mendengarkan cerita dari anak anak dan orang tua yang kehilangan keluarga mereka akibat tsunami. Saya menangis kenapa Bencana menimpa mereka.
Namun saya akhirnya sadar, mereka yang telah tiada, justru adalah orang orang yang beruntung. Kenapa? Karena mereka orang muslim yang meninggal karena tenggalam adalah masuk dalam kategori orang yang mati syahid dunia. Artinya itu adalah gelar dari Allah yang sangat besar untuk mereka. Dan bisa jadi, mereka semua akan di bangkitkan dengan dosa dosa yang telah di ampuni di hari kiamat kelak.
Menyaksikan dan berhubungan langsung dengan mereka memberi saya tekad yang besar untuk mendirikan sebuah Taman Hiburan, Taman Bermain dan wahana wisata terbesar di Indonesia. Yang juga merupakan sebuah lembaga pendidikan dari SD SMP SMA HINGGA PERGURUAN TINGGI. Sebuah ISLAMIC BOARDING SCHOOL, dimana mereka bisa belajar dan bermain, tinggal dan hidup. Semuanya GRATIS….untuk mereka Anak anak aceh dan seluruh anak Indonesia yang yatim piatu, miskin dan tidak mampu.
Lantas apakah impian saya tersebut akan terwujud?